MAKALAH
SEJARAH
KEBUDAYAAN ISLAM
DINASTI
HAMDANIYAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen
Pengampu : Muriyanto,M.Pd.I

Disusun
Kelompok 6A :
Afif Nur Aisiyah 172552
Agung Rezeki 172553
Aji Jevril 172554
Ana Novita Sari 172556
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
KLATEN
2018 / 2019
Daftar Isi
Sub Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuna
BAB II Pembahasan
A. Sejarah
Berdinya Dinasti Hamdaniyah
B. Kemajuan yang Dicapai
C. Kemunduran dan Kehancuran
BAB III Penutub
A. Saran
B. kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Akibat dari
kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam
dari pada persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai
lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, dengan berbagai cara diantaranya
pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh
kemerdekaan penuh. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai
terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. Akan tetapi berbicara tentang politik
Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani
Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah, mulai
dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas
wilayah kekuasaan Islam. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada
pemerintahan Bani Abbas. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol
dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan
kebanyakan bersifat nominal. Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak
dikuasai khalifah.
Secara riil,
daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi
bersangkutan. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran upeti. Ada
kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan
nominal dari propinsi-propinsi tertentu, dengan pembayaran upeti itu.
Alasannya, pertama, mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka
tunduk kepadanya, kedua, penguasa Bani Abbas lebih menitikberatkan pembinaan
peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi.
Akibat dari
kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam
daripada persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai
lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dalam salah satu
dari dua cara: Pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan
berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan
Idrisiyyah di Marokko. Kedua, seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh
khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, seperti daulat Aghlabiyah di
Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan
Idrisiyyah di Marokko, propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar
upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi
pergolakan-pergolakan yang muncul. Namun pada saat wibawa khalifah sudah
memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja
menggerogoti kekuasaan khalifah, tetapi beberapa diantaranya bahkan berusaha menguasai
khalifah itu sendiri. Menurut Watt, sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas
mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Fenomena ini mungkin bersamaan
dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di
propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen.
Kekuatan militer
Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa
Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran,
khususnya tentara Turki dengan system perbudakan baru seperti diuraikan di
atas. Pengangkatan anggota militer Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya
teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Apalagi pada periode
pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah, sudah muncul fanatisme kebangsaan
berupa gerakan syu’u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). Gerakan inilah yang
banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik, disamping
persoalan-persoalan keagamaan. Nampaknya, para khalifah tidak sadar akan bahaya
politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu, sehingga meskipun
dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan, seperti dalam kesusasteraan dan
karya-karya ilmiah, mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme
tersebut, bahkan ada diantara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik
kebangsaan dan keagamaan itu.
B. Rumusan
Masalah
1. Sejarah
Berdinya Dinasti Hamdaniyah
2. Kemajuan yang Dicapai
3. Kemunduran dan Kehancuran
C. Tujuan
Untuk mengetahui tentang :
1. Sejarah
Berdinya Dinasti Hamdaniyah
2. Kemajuan yang Dicapai
3. Kemunduran dan Kehancuran
BAB II
PEMABAHASAN
A.
Sejarah
Berdinya Dinasti Hamdaniyah
Ke wilayah
utara, Ikhsidiyah Mesir memiliki pesaing kuat yaitu dinasti Hamdaniyah yang
Syiah. Dinasti itu didirikan pertama kali di Mesopotamia utara dengan Mosul
sebagai ibu kotanya (929-991), mereka merupakan keturunan Hamdan Ibnu Hamdun
dari suku Taghlib.26 Gerakan keluarga Hamdani ini sebenarnya sudah ada pada
masa khalifah al-Mu’tadhid, yang waktu itu tampil dengan aksi menentang
khalifah Abbasiyah. Gerakan ini gagal dan akibatnya beberapa anggota
keluarganya ditangkap. Namun akhirnya khalifah Abbasiyah membebaskan mereka,
setelah al-Husain ibnu Hamdan menangkap tokoh khawarij Harun al-Syari. Ketika
bani Abbasiyah diperintah khalifah al-Muqtadir, nasib keluarga Hamdani
mengalami perubahan, keluarga ini banyak memperoleh penghargaan dari khalifah,
diantaranya adalah Abu alHaija’ Abdullah ibnu Hamdan dijadikan gubernur Mousul
(Irak) pada tahun 292 H, sedangkan Sa’id pada tahun 312 H juga diangkat menjadi
gubernur Nahawand. Kemudian dua putera dari Abu al-Haija’ menjadi penguasa
Dinasti Hamdaniyah. Kedua putranya tersebut adalah Muhammad al-Hasan ibnu
Abdullah yang bergelar Nashir al-Daulat dan Abu al-Mahasin ibnu Abdullah yang
bergelar Saif al-Daulat.Nashir al-Daulat diangkat sebagai pengganti ayahnya, di
tangannya inilah keluarga Hamdaniyah memiliki kekuasaan otonom di Mousul.
Sedangkan, Saif al-Daulat berkuasa di Aleppo (Suriah), dan ia dikenal sebagai
pendiri Dinasti Hamdaniyah di wilayah Aleppo. Hal ini berarti, Dinasti
Hamdaniyah memiliki perbedaan dengan dinasti kecil yang lain, kalau dinasti
kecil lain hanya berpusat pada satu tempat, tetapi pemerintahan Dinasti
Hamdaniyah berpusat pada dua tempat, yaitu cabang Mousul dan cabang Aleppo.
Dinasti Hamdaniyah didirikan
oleh Hamdan bin Hamdun, seorang Amir dari Suku Taghlib. Hamdan bin Hamdun
memiliki dua orang putra yang berkuasa pada masa pemerintahan Dinasti
Abbasiyah, yakni Al-Husain, yang merupakan panglima perang di kemiliteran
Abbasiyah, dan Abu Al-Haija Abdullah, yang diangkat menjadi Gubernur Mosul oleh
Khalifah Al-Muktafi pada 905 M.
Hamdan bin Hamdun pernah
ditangkap oleh pemerintah Abbasiyah karena terindikasi melakukan tindakan
pemberontakan. Diketahui, Hamdan beraliansi dengan kaum Khawarij, yang terkanal
sebagai kaum pembangkang dalam Islam, untuk menentang kekuasaan Dinasti
Abbasiyah. Namun atas jasa putranya yang menjadi panglima perang pemerintah
Abbasiyah, Hamdan bin Hamdun diampuni dan dibebaskan dari segala tuduhan oleh
Khalifah Abbasiyah.
B.
Kemajuan yang Dicapai
Prestasi
gemilang yang telah diukir oleh Dinasti Hamdaniyah lebih tampak pada wilayah
politiknya.Dinasti ini mampu memainkan peran penting sebagai pagar betis untuk
mempertahankan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang ketika itu berada pada tahap
kemunduran.Bahkan, Dinasti Hamdani ini sebagai suatu kekuatan, yang mampu
menahan pasukan Romawi untuk merebut seluruh wilayah Suriah.Pasukan Hamdani
cukup kuat dalam mempertahankan wilayah Islam. Disamping bidang tersebut
Dinasti Hamdaniyah jugamenaruh perhatiannya yang cukup besar terhadap dunia
intelektual. Hal ini terbukti di masa dinasti ini muncul sejumlah nama-nama
intelektual Muslim, yakni al-Farabi, al-Isfahani, dan al Firas. Meskipun
dinasti ini bukanlah dinasti yang besar, tetapi pencapaiannya jelas nampak.
C.
Kemunduran dan Kehancuran
Meninggalnya
Saif al-Daulat pada tahun 976 M, menyebabkab kepemimpinannya beralih kepada
putranya yaitu Sa’ad al-Daulat Syarif I yang kemudian secara berturut-turut
dipegang oleh Sa’d Daulat Sa’d, Ali II, Syarif II. Berbeda dengan Saif
al-Daulat, para penggantinya ini kurang memiliki kecakapan dalam memimpin,
terutama dalam mengimbangi kekuatan-kekuatan asing yang besar waktu itu yaitu
Bani Buwaihi, Romawi, dan Fathimiyah.Akhirnya, pada tahun 1004 Mdinasti
Hamdaniyah berhasil dikuasai oleh Dinasti Fathimiyah.
Syaif
Al-Daulah mencapai kemasyurannya dalam sejarah Arab terutama karena perhatian
dan sokongannya yang besar dalam bidang pendidikan dan dalam skala yang lebih
kecil, karena aksinya membangkitkan kembali semangat perlawanan terhadap
musuh-musuh Islam dari kalangan Kristen setelah sekian lama tidak dilakukan
oleh para penguasa muslim. Setelah memapankan posisinya di Suriyah Utara,
pedang dinasti Hamdaniyah dimulai pada tahun 947 mulai mengadakan serangan
reguler setiap tahun ke Asia Kecil, hingga saat kematiannya dua puluh tahun
kemudian, tidak satu tahunpun terlewatkan tanpa peperangan melawan Yunani.
Awalnya keberuntungan berpihak pada Sayf.Dia berhasil merebut Mar’asy diantara
kota-kota perbatasan lainnya.Tetapi kepemimpinan cemerlang Nicephorus Phocas
dan Jhon Tzimisces, yang keduanya kelak menjadi Kaisar, berhasil menyelamatkan
Bizantium.Pada tahun 961 Nicephorus berhasil merebut Aleppo, kecuali benteng
pertahanannya. Di kota itu ia membunuh tak kurang dari sepuluh ribu pemuda,
membinasakan seluruh tawanan dan menghancurkan istana Sayf Al-Dawlah. Pada awal
masa kekuasaan Kaisar itu, dua belas ribu orang Banu Habib dari keturunan
Nashibin, sepupu-sepupu Hamdaniyah pergi meninggalkan pemukimannya karena beban
pajak yang terlalu tinggi, lantas memeluk agama Kristen dan bergabung dengan
bangsa Bizantium menyerang kawasan muslim.
D.
Faktor Kemunculan Dinasti Kecil
Munculnya
dinasti-dinasti kecil di pusat imperium dan di daerah-daerah sekitarnya
merupakan sebab dari keruntuhan rezim Abbasiyah. Khalifah terpecah belah dalam
bagian-bagian kecil. Kebanyakan wilayah yang mula-mula ditaklukan itu, hanya
dalam namanya saja dan cara menyusun administrasi negaranya tidak menuju kepada
stabilitas dan persatuan. Selain itu, bangkitnya identitas parokhial berupa
gerakan Syu’ubiyah, juga merupakan faktor dominan dari proses disintegrasi.
Srategi dominatif imperium Abbasiyah dapat berlangsung mulus hanya dalam tiga
abad pertama pemerintahannya. Hanya saja menjelang periode akhir imperium
Abbassiyah akibat strategi dominatifnya yang lebih menekankan pembinaan
peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik, propinsi-propinsi
tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Abbasiyah dengan
berbagai cara diantaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan
mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.
Selain
itu,hal ini juga bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara; pertama,
penerapan otonomi di saat bangkitnya identitas parokhial yang didasarkan pada
fanatisme etnik berupa gerakan syu’ubiyah (primodialis/anti-Arab). Gerakan inilah
yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. Kedua, pemberian hak
istimewa kepada militer oleh penguasa Abbasiyah. Diantaranya dengan
pengangkatan militer sebagai gubernur-gubernur daerah tertentu yang membuat
mereka benar-benar independen. Dalam catatan W. Montgomery Watt, langkah ini
diambil imperium karena faktor semakin melemahnya kekuatan militer yang secara
matematik mempengaruhi stabilitas politik status quo imperium Baghdad. Oleh
karena itu, penguasa imperium yang waktu itu Mu’tashim merasa perlu untuk
mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran khususnya tentara
Turki.
Dari
penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang
menyebabkan kemunduran Bani Abbas sehingga banyak munculnya dinasti-dinasti
kecil di Baghdad, adalah :
1. Adanya perpindahan ibu kota yang tadinya di Baghdad di
masa Khulafaurrasyidin pindah ke Damaskus di masa Bani Umayah
2. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara
komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan
itu, tingkat saling percaya di kalangan
para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
3. Dengan
profesialisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi.
4. Keuangan negara sangat sulit
karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara
bayaransangat besar.
Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup
memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Yang pempengaruhi munculnya
dinasti-dinasti kecil disebabkan berbagai hal yang terjadi di pusat
pemerintahan Abbasiyah memberikan pengaruh besar terhadap daerah-daerah
kekuasaan daulah ini. Kerena pemerintahan khalifah yang lemah banyak muncul
pemberontakan-pemberontakan di berbadi daerah yang ingin membentuk dinasti-dinasti
kecil yang melepaskan diri dari bani Abbasiyah.
Dinsti-dinasti kecil yang lahir dan memisahkan diri dari
kekuasaan Baghdad pada masa khalifah Abbasiyah salah satunya adalah dinasti
Hamdaniyah yang didirikan oleh seorang amir dari suku Taghlib yang bernama
Hamdan bin Hamdun, yang pusat pemerintahannya berada di Mousul dan Aleppo.
Kemajuan yang dicapai oleh dinasti Hamdaniyah adalah mampu
menahan pasukan Romawi yang akan merebut wilayah Suriah karena pasukan
Hamdaniyah ini cukup kuat dalam mempertahankan wilayah islam. Selain itu muncul
juga para intelektual muslim yakni Al Farabi, Al Isfahani dan Al Firas.
Masa kemunduran dinasti ini tidak adanya pengganti yang
cakap dalam memimpin setelah sepeninggal Saif al-Daulah pada tahun 975 M,
terutama dalam mengimbangi kekuatan asing yang besar yaitu Bani Buwaihi, Romawi
dan Fatimiyah, hingga pada akhirnya tahun 1004 M dinasti Hamdaniyah berhasil
dikuasi oleh Dinasti Fatimiyah.
B. KRITIK
DAN SARAN
Makalah ini mungkin sangat jauh dari
kata sempurna. Untuk itu penulis selalu mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca sekalian, agar menjadi masukan dan perbaikan bagi penulis sehingga
kedepannya makalah ini menjadi lebih baik.
Daftar Pustaka
Sumber: Supriyadi, Dedi. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Bandung:
Pustaka Setia.
Zaidan,Jurji,History of Islamic Civilization,New
Delhi: Kitab Bhavan, 1978 Murody, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Toha
Putera, 1997). Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Eka Sarana,
2007).
W. Montgomery Watt,
Islamic Political Though, (Edenburg: Edenburg University Press, 1960)
Hasan Ibrahim Hasan,
Tarikh al-Islami, (Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Misyiria, 1964)
Jurji Zaidan, History
of Islamic Civilization (New Delhi: Kitab Bhavan, 1978)
Komentar
Posting Komentar